Tango

Book Review
Started on: July 29, 2012
Finished on: August 3, 2012

Judul buku: Tango
Penulis: Goo Hye Sun
Penerjemah: Dwita Rizki Nientyas
Penerbit: Ufuk Fiction
Tahun terbit: 1 Juli 2012
Tebal: 309 halaman

Rating: 5/5






 ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------

“Aku tidak minum kopi. Tidak, aku tidak tahu caranya. Itu adalah hal tidak perlu kuketahui. Kopi yang kuseduh sama sekali tidak enak. Oleh karena itu, aku semakin tidak memahami kopi.” –Yun.

Perempuan itu bernama Yun, baginya kopi tak ubahnya kolam penderitaan. Berbeda dengan Kang Jong Woon—pria yang kerap bertandang ke rumah Yun selama dua tahun terakhir. Pria itu menanggap kopi, rokok, dan alkohol sebagai kenyataan; seperti halnya makan nasi, minum air, dan ke toilet yang merupakan kebiasaan mendasar.
   
Kang Jong Woon mengajarinya agar perempuan itu tidak pergi dan memungkiri kenyataan. Ia mengibaratkan sebuah hubungan sebagai tarian tango. Kaki-kaki kokohnya berputar-putar kecil, lalu bibirnya berteriak, “Step!” Itulah yang selalu Jong Woon lakukan setiap sore. Menjejaki rumah Yun dan membuatkan espresso dengan caranya. Hingga suatu malam pemuda itu datang dengan keadaan mabuk. Yun tak mengerti mengapa Jong Woon menyukai kebiasaan itu.

“Saat menari, seseorang harus tahu caranya melepaskan dirinya sendiri. Dia harus tahu caranya memercayai pasangannya. Apalagi saat seseorang menari tango. Kau harus melepaskan dirimu sendiri.” –Jong Woon.

Setiap orang memiliki standar tersendiri akan sebuah kesempurnaan. Yun tak bisa menuntut Jong Woon untuk sebuah alasan dan mereka berdua pun memutuskan untuk berpisah. Perpisahan memang menyakitkan, namun Yun tak ayal berusaha untuk memahami diri Jong Woon. Lidah kakunya sudah bisa menyesap alkohol, kendati kopi dan rokok masih terasa pahit serta menyesakkan.

Perempuan itu memutuskan untuk menerima tawaran Eun Yi, yang tak sengaja mempertemukannya dengan seorang pria mapan bernama Min Young. Ia berstatus sebagai wakil perusahaan penerbit, mengaku terkesan dengan hasil terjemahan Yun. Pria berumur empat puluh itu menawari Yun agar menulis novel perdananya, namun di samping itu, Min Young pun tergiur akan kemudaan yang dimiliki Yun. Ia bersedia menukar seluruh hartanya demi mendapatkan masa muda itu.

Sebaliknya bagi Yun, Min Young tak nampak tua, tidak seperti para pria lainnya yang telah mendapatkan keriput-keriput renik dan kantung mata. Ia nampak muda, kaya, dan menawan. Terlebih mengejutkan lagi, pemuda itu secara tidak langsung melamar Yun pada perjumpaan kedua mereka. Pernikahan tentu bukanlah hal yang mudah untuk ditentukan. Yun menyimpan cincin itu untuknya tanpa disandingi jawaban iya atau pun tidak. Hatinya masih bertanya-tanya, seiring berlangsungnya pertemuan lain dengan pemuda asing bernama Si Hoo—sosok misterius di peron kereta.

“Itu bukan tarian yang harus dilakukan berpasang-pasangan. Orang-orang di dunia memang mengharuskan kau untuk berbuat seperti itu, tapi memang ada hal-hal yang membuat kau berpikiran seperti itu. Harus menari, harus menikah, hal-hal seperti itu.” –Si Hoo.

Si Hoo berhasil menimpali kata-kata Jong Woon dengan filosofi yang tepat. Yun merasa Si Hoo berbeda, berbeda dari seorang Jong Woon dan Min Young, namun bagaimana caranya ia menginterpretasikan hubungan mereka? Sahabat? Mereka memang acap mengunjungi rumah satu sama lain, begitu pun Si Hoo memberi masukan demi masukan atas kerangka tulisan Yun. Tapi mereka tak hanya diam di sana. Si Hoo adalah pemuda yang tepat, di kala bibirnya mengutarakan sebuah perasaan bertajuk cinta, namun ia masih memiliki Min Young dan sebuah status yang sengaja digantungnya. Lalu, siapa yang harus ia pilih?

Tango memang berlatarkan negeri Ginseng tapi tidak dikemas seperti halnya novel-novel modern bergaya kpop lainnya. Karya perdana milik Goo Hye Sun ini sanggup menenggelamkan para pembaca ke dalam sebuah pemikiran dasar, di mana seorang manusia adalah sosok yang harus menghadapi kenyataan. Karater Yun sebagai tokoh utama pun dicerminkan sebagai sosok yang penuh kejutan. Persis dengan masyarkat yang hidup di lingkungan metropolis, seluruhnya penuh lika-liku dan tidak mudah ditebak. Diimbuh empat karakter lain—termasuk sahabat Yun yang dikatakan gay—sukses menimpali setiap filosofi kehidupan dengan cantik.

Tidak heran jika novel ini menjadi salah satu novel best-seller di Korea karena Goo Hye Sun memang menyuguhkan sebuah karya yang tidak biasa. Mungkin dari sisi plot yang terkesan standar menceritakan hubungan romansa laki-laki dan perempuan, tapi sesungguhnya novel ini malah mengajak para pembaca untuk berpikir, mencari tahu arti-arti dari hubungan antara secangkir kopi yang pahit; rokok yang menurut Jong Woon adalah sebuah kenyataan; alkohol yang memang salah satu elemen mendasar. Jika dikatakan membosankan, Tango memang dirasa tidak terlalu kreatif dari segi ide plot, tapi hal itu tak lantas mengurungkan niat pembaca untuk menelaah keseluruhan cerita. Filosofi-filosofi yang sengaja ditulis Goo Hye Sun-lah yang saling berkaitan, membuat pembaca mau tidak mau harus menyimak permulaan hubungan Yun dengan Kang Jong Woon dan tidak terasa mereka telah terdampar di ujung kisah Yun.

Selain filosofi yang manis, Goo Hye Sun juga ikut menyajikan ilustrasi-ilustrasi briliannya di dalam Tango. Sebuah inovasi yang jarang dimiliki para penulis lainnya—penulis sekaligus ilustrator. Goo Hye Sun memang seorang penulis multitalenta.

Secara keseluruhan, Tango adalah bacaan yang sangat menghibur dan menginspirasi. Memang bagi sebagian orang yang menyukai cerita ringan, pasti beropini bahwa buku ini merupakan jebakan, tapi Tango bukan sekadar novel yang ditulis dengan berdasarkan pada plot semata, melainkan ikut menegur para masyarkat tentang sebuah kenyataan dan menggapai kebebasan.

1 comments:

katakatadicta said...

*sigh* *speechless*

Goo Hye Sun = PERFECT

 

Flickr Photostream


Twitter Updates

Meet The Author